Tanah Api
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Tanpa kusadari aku telah tertidur entah untuk berapa lama, masih terombang ambing di dalam pesawat, dimanakah sebenarnya tanah para Succinics tersebut? mengapa kami belum juga sampai, padahal pesawat ini memiliki teknologi untuk menggunakan kecepatan cahaya bukan? bukankah semua pesawat angkasa luar memilikinya? lalu mengapa kami masih belum juga diturunkan. pikiranku terhenti mendengar isak tangis seseorang di sudut ruangan, kulirik asal suara tersebut, seorang lelaki, kudekati badannya yang bergetar "mengapa engkau menangis?" tanyaku pelan,"jangan sampai para succinics mendengarmu, mereka bisa geram dan melemparmu keluar" bisikku lagi. Ia lalu memberiku sebuah foto, "ini.." ujarnya bergetar, wajahku berkerut bertanya-tanya, yang kulihat di sana hanyalah foto padang rumput yang luas dan ditumbuhi berbagai macam pepohonan buah, lalu? "saat aku memotretnya, istriku berada di sampingku, setelahnya kami bercinta di padang itu, aku sangat merindukannya, bagaimana keadaannya di tanah para setan tersebut.." air mata berbulir jatuh dari pelupuk matanya, ia pasti sangat mencintai istrinya, "tenanglah, saat ini kita akan berjalan ke sana" aku memeluknya dan merasa sangat bersimpati "kekasihku pun berada di sana, yakinlah kita akan menyelamatkan mereka dan sampai di distrik ke terakhir, kita akan meledakkan benteng-benteng succinics dan menyalakan transmitter sehingga para prajurit bumi bisa sampai dan membawa kita pergi dari sana" ia mengangguk dan kemudian menjadi lebih tenang, "reed" ujarnya sambil menjabat tanganku "Green" Ucapku memperkenalkan diri. aku lalu duduk di sampingnya, tak berapa lama kemudian pesawat tiba tiba berhenti berdesing.... lalu terantuk cukup keras, sudah sampaikah kami???? suara mesin pesawat yang meraung lalu berhenti, kami telah sampai, namun pintu pesawat tak kunjung membuka untuk kami...aku menunggu, yang lain memegang trocadero nya dengan gugup, hatiku terlalu marah untuk gugup.
sudah dua hari kami di sini dan pintu tak kunjung membuka. Persediaan ransum kami semakin menipis.
-------------------------------------------------------------------------------------------------



0 Responses to 'Succinics Part #2'